Lisan merupakan suatu anugrah yang luar biasa dari Allah yang diberikan kepada kita sebagai hamba Nya, yang patut sekali untuk kita syukuri. Dengan ada nya lisan, kita bisa menuangkan hal-hal yang ada di dalam pikiran kita, melakukan apapun yang ingin kita ekspresikan, kita juga bisa menggunakan lisan kita untuk membaca kitab Al-Quran. Jika tanpa adanya lisan ataupun lidah maka akan banyak sekali yang tidak bisa kita nikmati. Sekalipun saat kita makan makanan pun juga merasakan kenikmatan nya itu bermula dari lidah kita. Namun yang akan kita bahas disini bukanlah konsteks lidah sebagai fungsi organ nya , namun sebuah lisan yang bisa digunakan sebagai apa yang akan kita ucapkan.
Surah An-Nisa ayat 148 :
لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْۤءِ مِنَ الْقَوْلِ اِلَّا مَنْ ظُلِمَۗ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا عَلِيْمًا
Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Kandungan arti dari ayat itu dimaksud kan bahwa ketika seseorang sedang dizolimi , maka diperbolehkan untuk nya menyampaikan keburukan atau kejahatan dari orang lain yang telah menzolimi nya tersebut.
Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.
Terlepas apa yang dikatakan oleh lisan kita benar atau tidak, Allah maha mengetahui. Banyak sekali maksiat yang bisa sering dilakukan oleh lisan kita sehari-hari, salah satu nya yaitu ghibah atau bergosip. Dari ayat tersebut , “Allah tidak menyukai perkataan buruk “. Itu artinya ketika kita mengucapkan keburukan tentang orang lain maka itu tidak baik.
Surah Al-Hujurat ayat 11 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”
Di dalam kandungan ayat surat itu , kita sebagai orang beriman ada perintah untuk tidak mengolok-olok. Karena ada kemungkinan kaum yang diolok-olok itu ternyata lebih baik dari mereka yang mengolok-olok. Begitu juga saat ini di jaman sosial media, sangat mudah sekali bagi seseorang untuk melakukan hal-hal yang negatif dengan melakukan olok-olok kepada orang lain. Jangan sampai kita mendapatkan dosa jariyah dari apa yang kita tulis di media sosial. Pada jaman dahulu memang situasi nya lebih sederhana bahwa ucapan lisan itu adalah hanya yang dikatakan pada saat bertemu langsung dengan orang lain, namun di jaman sekarang perkataan lisan itu juga termasuk dengan apa yang kita tuliskan di media sosial.
Sebuah hadits dari Rasul , beliau bersabda bahwa , “Orang yang paling sempurna iman nya adalah mereka yang paling baik akhlak nya, dan juga yang paling lembut kepada keluarga nya”. Dari hadits ini bisa kita lihat bahwa tolok ukur dari seseorang itu bisa dilihat dari perlakuan nya kepada keluarga dia sendiri. Berperilaku baik kepada keluarga nya, menjaga lisan kepada keluarga nya. Karena dalam keseharian nya yang bersama dirinya adalah keluarga nya itu sendiri.
Apa bahaya ketika lisan kita tidak bisa dikendalikan?
Imam Ghozali dalam kitab nya , beliau menyoroti berbagai bahaya yang timbul dari lisan seseorang yang tidak terjaga. Yang pertama ketika lisan kita berbicara tentang kebathilan. Ketika lisan kita berbicara mengenai hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Seperti ketika membahas tentang hal maksiat, tentang perilaku yang tidak baik , Apalagi ketika kita berada di dalam sebuah kelompok yang cenderung melakukan hal maksiat bersama-sama, maka hal tersebut cenderung akan mempengaruhi diri kita untuk berbuat buruk.
Yang kedua, lisan yang bisa memicu pada pertengkaran dan adu domba. Namimah yang artinya mengadu domba, ini sangat bahaya sekali.
Ada sebuah frasa , “Likulli ni’matin mahsudun” artinya adalah “ketika setiap orang yang memiliki kenikmatan pasti ada orang lain yang mendengki”. Bahkan orang-orang yang iri ini akhir nya bisa menghasut. Hasad ini bahaya nya adalah mereka bisa menghasut untuk membenci. Lagi lagi ini juga tentang lisan. Bagi pelaku hasad, maka ibadah yang mereka lakukan akan sia-sia semua, sedangkan bagi orang yang menjadi korban hasad atau digosipkan maka sebaik nya kita tidak perlu ikut panas atau emosi. Juga kita tidak perlu untuk membalas dengan hal yang sama karena itu hanya akan merugikan kita sendiri, jangan merubah diri kita menjadi seperti mereka yang tidak baik.
Lisan yang menghancurkan ketika kita sombong.
Seperti yang kita tau, antara perilaku sombong dengan syukur itu memiliki perbedaan yang sangat tipis sekali. Terkadang kita ingin untuk mengungkapkan perasaan hati ketika kita berhasil mendapatkan sesuatu hal yang sangat bagus , namun perbedaan yang nyata itu adanya ada di dalam hati kita.
Jangan sampai terselip disana sebuah rasa sombong, bahkan jika itu dilakukan di media sosial.
Bagaimana cara menjaga lisan kita tetap terjaga?
Yang pertama yaitu berzikir. Zikir adalah sesuatu aktivitas yang diulang-ulang, misal nya zikir dilakukan pada waktu tertentu di setiap hari kita. Kita dapat mengevaluasi apa saja yang telah kita ucapkan di hari itu, dan apakah ada orang lain yang merasa terzolimi dengan lisan kita. Terkadang kita bisa dengan enteng untuk mengucapkan sesuatu dengan lisan kita di depan orang lain, tapi kita tidak tau apakah orang itu ternyata menjadi sakit hati dengan ucapan kita. Hal terpenting dari berzikir adalah istikomah. Di sela aktivitas kita dalam sehari bisa kita sempat kan untuk berzikir agar kita dapat selalu fokus dan menghindarkan kita dari hal hal yang tidak baik dan agar kita tidak menzholimi diri kita dan orang lain. Kemudian yang kedua adalah biasakan untuk berfikir dahulu sebelum bicara. Kita juga jangan selalu memotong pembicaraan dari orang lain, biarkan mereka selesaikan dahulu percakapan nya karena itu menghargai orang lain. Kemudian biasakan diri kita untuk diam. Daripada kita bicara yang tidak ada faedah nya maka lebih baik jika kita itu diam.
Dari pada kita berbicara di dalam kelompok yang ditengah tengah nya sedang berbicara tentang kemaksiatan maka lebih baik kita diam. Yang keempat adalah menghindarkan topik topik yang negatif. Menghindari pembicaraan yang dapat memicu dosa kebatilan seperti maksiat fitnah. Kita biasakan untuk diam dan selalu berbaik sangka kepada Allah. Karena Allah akan sesuai prasangka hamba Nya. Kemudian yang terakhir adalah membangun lingkungan yang positif. Pesan untuk sahabat Unisia, bahwa menjaga hati tetap bersih akan membuat lisan kita menjadi mulia, dan lisan yg mulia adalah kunci keselamatan untuk diri kita sendiri maupun keselamatan untuk sosial kemasyarakatan kita yang lebih luas, diawali dari lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Mulailah dari diri kita untuk menjaga lisan agar kita bisa selamat dunia dan akherat.
Sumber : Nurul Aeni, S.Ag., M.S.I – Penyuluh Kementrian Agama DIY