Pemimpin yang berintegritas

Melihat realitas yang terjadi di negara kita. Masih kita ingat, ada nya kasus korupsi besar yang terjadi di sebuah lembaga keagamaan belum lama ini. Ini salah satu contoh carut-marut nya dari kepemimpinan yang tidak memiliki integritas. Di luar lembaga keagamaan juga terjadi banyak berbagai kasus korupsi yang mengejutkan masyarakat.

Apa yang dimaksud integritas?
Apakah sifat integritas ini hanya wajib dimiliki oleh pemimpin ataukah sifat integritas ini juga harus dimiliki oleh semua orang ? Maka jawaban yang benar adalah semua orang. Berintegritas itu tidak hanya harus dimiliki oleh seorang pemimpin , namun sifat integritas itu harus dimiliki oleh semua orang.
Kata “integritas” jika kita rujuk , asal kata ini berasal dari bahasa latin , yaitu “integer”. Secara etimologi, secara bahasa integer itu arti nya adalah “utuh dan lengkap”. Merujuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, integritas artinya adalah kejujuran. Yaitu kejujuran yang utuh yang memiliki landasan moral dan etika.

Jadi jika kita melihat pemimpin yang tidak berintegritas berarti diri nya tidak jujur yang berlandaskan moral dan etika. Di dalam Islam, orang yang berintegritas memiliki 4 ciri. Ciri-ciri orang berintegritas yaitu :

Memiliki kejujuran baik dari ucapan dan tindakan. Dan bagi orang-orang yang jujur , hal ini akan menjadi prinsip di dalam hidup nya. Ketika diri nya berlaku jujur arti nya sama hal nya dia sudah berintegritas, dan hal ini perlu ada di dalam setiap diri kita. Apakah kita pernah melihat pemimpin yang melakukan ketidakjujuran di dalam kepemimpinan nya?, tentu saja masyarakat semua yang akan menilai. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan : Qulil haqqa walau kana murran . “Katakanlah kebenaran (kejujuran) itu, walaupun itu pahit.”

Kemudian ciri orang yang kedua adalah,orang yang senantiasa bertanggung jawab dan berani mengakui kesalahan.
Saat ini banyak kita melihat orang-orang yang ketika dirinya diberikan sebuah amanah , baik itu berupa jabatan mulai yang terbawah sampai keatas, yang tidak berani mengakui kesalahan yang dia perbuat. Dari kacamata masyarakat umum yang melihat realita yang terjadi di tingkat pemerintahan daerah hingga nasonal, beberapa kali kita melihat seorang pejabat yang diberikan jabatan dan sebuah amanah mengerjakan sebuah proyek besar walaupun sebelum nya diri nya pernah ditahan sebagai pelaku korupsi. Mereka tidak malu, bahkan masih mau mengambil jabatan untuk pekerjaan lain yang mengemban amanah besar dari masyarakat, dan inilah realitas yang terjadi.
Jika kita melihat orang yang diberikan amanah namun orang tersebut tidak bertanggung jawab maka sama saja arti nya adalah orang tersebut tidak berintegritas.

Kemudian ciri yang ketiga adalah berani menyampaikan kebenaran. Jika kita melihat orang yang sedang melakukan tindakan korupsi, maka kita harus berani mengatakan hal itu adalah salah. Ketika kita melihat orang lain yang sedang melakukan perusakan lingkungan, pembalakan liar di hutan dan pembakaran hutan, kita harus berani mengatakan hal itu salah. Namun realita yang terjadi di lapangan, banyak kaum akademisi yang bahkan tidak berani untuk mengatakan sebuah kebenaran. Jangan sampai kita sebagai akademisi merasa ‘tersandera’ karena harus mengikuti apa kata pimpinan kita walau di dalam hati nurani kita ingin mengatakan kebenaran atas sebuah fakta yang sedang terjadi.

Ada sebuah kisah seorang khalifah bernama Harun ar-Rasyid,  beliau saat itu hidup di masa dinasti Abbasiyah pada saat era kejayaan umat Islam. Pada saat itu ada seorang warga di kota nya yang dikatakan oleh warga setempat, disebut sebagai orang gila. Kemudian di suatu hari , ketika sang Khalifah Harun ar-Rasyid sedang melakukan inspeksi mendadak ke sebuah lokasi di seputar kota tersebut, bertemulah beliau dengan seorang pemuda yang dianggap gila oleh masyarakat kota itu. Dia berkata “Wahai Khalifah Harun ar-Rasyid, kamu gila”, kemudian sang Khalifah yang mengetahui pemuda gila tersebut hanya tersenyum sembari menimpali dengan candaan, “Apakah tidak terbalik yang gila ada di sebelah sana?”
Anak muda gila tadi berkata : “Wahai Harun ar-Rasyid , anda terlalu sibuk membuat istana mu, anda terlalu sibuk membuat kebijakan-kebijakan mu untuk kota mu, namun kamu lupa untuk menyiapkan hari akhir mu. Apakah kamu tidak takut untuk dipandahkan dari alam yang fana ini ke alam yang tidak fana ini ? ”
Kemudian Harun ar-Rasyid seketika diam, kemudian dia tersadar, kemudian dialog mereka berlanjut, berkata, “Coba nasihati aku lagi anak muda, dengan nasihat yang lain”. Beliau justru bertanya lagi kepada orang tersebut. Pemuda itu mengatakan bahwa kepimpinan itu hanyalah sementara, janganlah sombong, karena jika kau mati nanti pasti akan dikubur dan akan dimakan oleh cacing tanah di dalam sana.
Pada saat itu sebagai khalifah , Harun ar-Rasyid ini memimpin wilayah yang sangat luas sekali, mulai membentang dari wilayah afrika atau negara maroko pada saat ini hingga wilayah daratan timur tengah.
Di dalam percakapan itu, sang Khalifah menjawab, “Apa yang kamu katakan anak muda, hal itu adalah semua benar.”
Jadi seorang anak muda yang dikatakan gila oleh para warga masyarakat setempat kota itu, namun  ketika berdialog dengan sang khalifah , justru sang khalifah mengatakan bahwa yang dikatakan oleh anak muda itu semua adalah benar. Kemudian anak muda itu mengatakan hal ini , “wahai Harun ar-Rasyid, jika kamu bisa mengabulkan apa yang kuingin kan maka aku akan bersyukur.  Yang pertama , panjangkan lah umur ku”, Sang khalifah menjawab, “saya tidak bisa.” Karena kehidupan itu adalah kehendak dari Allah.  Kemudian pemuda itu mengatakan permintaan selanjutnya , “Masukkan aku ke dalam surga dan hindarkan aku dari neraka.” . Sang khalifah menjawab, “Aku tidak bisa melakukan semua itu”. Dari kisah ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa seorang pemimpin itu sejati nya juga seorang hamba Allah, mereka sama seperti kita semua.

Ciri orang yang berintegritas yang keempat adalah orang yang senantiasa memiliki kompetensi. Orang ini memiliki kemampuan untuk mengemban tugas amanah yang diberikan tersebut kepada diri nya, atau juga dapat disebut sebagai orang yang memiliki ilmu. Dari sebuah hadits, Idza wussida al amru , “Apabila diberikan sebuah tanggung jawab kepada orang yang tidak memiliki ilmu, maka tunggulah kehancuran nya.”
Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya. Hadits riwayat Bukhari .
Jadi jika sebuah pekerjaan yang diberikan kepada seseorang yang orang tersebut tidak memiliki ilmu nya, maka tunggu lah kehancuran itu.

Jadi kesimpulan nya adalah, jika sebuah pekerjaan yang diberikan kepada seseorang, yang orang tersebut tidak memiliki ilmu nya, maka tunggu lah kehancuran. Ini lah yang sedang terjadi di bangsa kita, hal ini sedang terjadi di tengah-tengah kehidupan kita, namun realitas ini tidak hanya terjadi di jaman sekarang namun juga pernah terjadi di jaman para sahabat Nabi dahulu, ketika di jaman tabi’in bahkan juga terjadi di jaman kenabian. Walaupun dengan perubahan jaman dengan segala perubahan bentuk pekerjaan di jaman sekarang, sifat yang tidak berintegritas ini masih sama dengan empat hal tersebut.
Kita sebagai insan manusia diberikan sebuah akal untuk berpikir , dan akal nurani manusia juga senantiasa bertentangan dengan kesalahan. Namun orang yang tidak berintegritas pasti akan mengalami pertentangan di dalam diri nya. Misal orang yang sedang melakukan korupsi, di dalam hati nya pasti yakin kalau hal yang dilakukan nya adalah sebuah kejahatan , namun hawa nafsu yang dia kejar. Sebaliknya orang yang memiliki integritas pasti akan bertentangan dengan nurani nya.

Oleh karena itu, empat hal tersebut harus kita miliki pada setiap pribadi kita , jika kita sudah memiliki keempat hal tersebut, jujur , bertanggung jawab, berkata yang benar , dan memiliki ilmu , maka kita sudah masuk kedalam kategori orang-orang yang berintegritas. Semoga kita semua bisa istiqomah menjadi pribadi yang berintegritas.

Sumber : Willi Ashadi, S.H.I., M.A. – Dosen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Budaya , Universitas Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *