Pesan Nabi yang pertama adalah meningkatkan kualitas iman dan takwa kita dihadapan Allah untuk menggapai surga Nya. Yang kedua adalah mengistiqomahkan amalan, dan yang ketiga adalah bersedekah, dan yang keempat adalah bersyukur, dan yang kelima adalah berbakti kepada orang tua.
Berbakti kepada kedua orang tua.
Anak sampai kapanpun tidak akan bisa membalas kebaikan dari orang tua.
Sehingga, jika kita tidak bisa membalas kebaikan kedua orang tua maka minimal kita tidak menyakiti mereka. Jika kita belum sanggup membahagiakan mereka maka setidaknya jangan sampai kita menyakiti mereka. Dan jika orangtua kita sudah meninggal dunia, kita juga tetap dapat terus berbakti kepada mereka, yaitu dengan cara terus mendoakan mereka di dalam setiap kesempatan kita, bisa dilakukan setelah beribadah sholat dan juga waktu lain nya.
Surah Al-Isra ayat 23 :
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Arti nya : “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
Pesan untuk selalu bersedekah.
Ada sebuah cerita dari sahabat nabi yang bernama Abdurrahman bin Auf, suatu saat ketika Nabi sedang melakukan halaqaah bersama para sahabat, kemudian saat itu Rasul mengatakan bahwa dari sekian banyak nya sahabat beliau yang masuk ke surga , yang terakhir kali masuk ke dalam surga adalah kamu (dengan beliau menunjuk kepada Abdurrahman bin Auf). Hal ini langsung seketika membuat Abdurrahman bin Auf menjadi gemetar, kemudian dia bertanya kepada Rasul, Wahai Rasulullah kenapa saya itu menjadi orang yang belakangan memasuki surga? Padahal juga ikut menemani engkau dalam berperang dan penyebarkan ajaran agama Islam bersama-sama dengan para sahabat yang lain. Kemudian Nabi menjawab: “Karena kamu adalah sahabat Nabi yang paling kaya raya.” Sehingga kamu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat yang lebih lama.
Mendengar penjelasan dari Rasulullah itu, kemudian Abdurrahman bin Auf menjadi semakin gemetar dan ketakutan. Kemudian Abdurrahman bin Auf mencari cara agar harta yang dia miliki itu menjadi berkurang. Usai perang Tabuk yang terjadi saat itu , ketika itu banyak sekali terdapat kurma-kurma hasil perkebunan dari penduduk setempat yang menjadi busuk karena tidak sempat untuk dijual di pasar dan dikonsumsi. Kemudian Abdurrahman bin Auf berkeinginan untuk bersedekah dengan cara membeli semua buah kurma-kurma yang telah busuk tadi dengan harga beli kurma yang normal seperti harga di pasar.
Hal yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Auf dengan membeli kurma kurma yang telah busuk tersebut tentu saja akan sangat merugikan nya. Lalu kemudian seluruh kurma busuk yang telah dibelinya itu ditaruh di halaman belakang rumah nya. Setelah itu kemudian Abdurrahman bin Auf bertemu dengan Rasulullah dan mengatakan bahwa diri nya telah bersedekah dengan membeli banyak sekali kurma-kurma yang telah busuk agar harta nya dapat berkurang sangat banyak. Mendengar perkataan dari Abdurrahman bin Auf , Rasullullah hanya tersenyum. Tidak lama setelah kejadian tersebut, ada sebuah berita penting dari negeri seberang yaitu dari negeri Yaman yang pada saat itu banyak masyarakat nya sedang mengalami sebuah wabah langka penyakit kulit yang pada saat itu disebutkan hanya dapat diobati dengan dioleskan pelepah dari kurma-kurma yang telah busuk sebagai bagian dari pengobatan nya. Kemudian Raja dari Yaman memerintahkan pasukan nya pergi ke seluruh negeri untuk mencari sebanyak-banyak nya kurma-kurma yang telah membusuk untuk dapat dipakai sebagai bahan obat tersebut. Raja juga memberikan pemberitahuan sayembara bagi siapa saja yang memiliki kurma-kurma tersebut maka akan dibeli oleh nya dengan harga 15 kali lipat lebih mahal.
Selanjutnya kemudian berita tersebut tersebar luas hingga kepada Abdurrahman bin Auf yang memiliki banyak sekali kurma-kurma busuk di rumah nya. Di akhir cerita itu kemudian, justru harta yang dimiliki oleh Abdurrahman bin Auf ini malah bertambah menjadi 15 kali lipat lebih banyak, dia menjadi lebih kaya dari yang sebelum nya.
Dalam sebuah hadits disebutkan , Hatta lā ta’lama shimāluhā mā tunfiqu yamīnuhā , yang arti nya : “Hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya”.
Hadits tersebut mengajarkan kepada kita untuk menghindari dari sifat riya’ dan summ’ah, yang arti nya: Ingin dilihat , ingin didengar. Hal ini harus dihindari dalam melakukan sedekah karena hal ini tidak diperbolehkan di dalam ajaran agama Islam. Namun apabila kita memperlihatkan sedekah kita dengan maksud lain yang bernilai sesuatu yang positif, misal nya dalam tujuan untuk mengedukasi orang lain, maka hal ini diperbolehkan. Semua itu tergantung dengan niat kita , karena perkara niat itu bisa mempengaruhi dari pahala.
Selalu bersyukur.
Rasulullah menyampaikan dalam sebuah hadits , “Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu” . Kenapa demikian, karena jika kita hanya melihat orang-orang yang berada di atas kita maka kita hanya akan meremehkan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Ini adalah cara bersyukur yang diajarkan oleh Nabi kepada kita semua umat Muslim dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari.
Kesimpulan yang bisa kita ambil dari semua pelajaran di atas adalah , dalam Iman terdapat Islam dan Ikhsan. Arti dari Ikhsan ini adalah kita beribadah seakan-akan sedang melihat Allah, dan jika kita tidak bisa melihat Allah maka pikirkan bahwa diri kita sedang dilihat oleh Allah. Dipikiran kita sedang berdiri di hadapan Allah , bukan hanya sedang menggugurkan kewajiban kita. Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah luruskan niat. Ini juga sebuah hal yang sama dengan ketika kita bersedekah. Mungkin suatu ketika awal nya kita belum bisa ikhlas dan rela untuk melakukan nya, namun dengan selalu ber-istiqomah maka kita pasti akan bisa melakukan nya.
Sumber : Hasman Zhafiri Muhammad, S.H., M.H. – Dosen Program Studi Al-Syakhshiyyah , Fakultas Ilmu Agama Islam Indonesia , Universitas Islam Indonesia