Hukum tradisi dalam Islam

Indonesia memiliki banyak sekali kegiatan tradisi budaya yang  telah mengakar kuat dan terjadi dilakukan secara turun temurun sejak nenek moyang bangsa kita. Tradisi yang hidup ini sudah terjadi sejak sebelum diajarkan nya agama Islam di nusantara. Ajaran agama Islam diajarkan dan disebarluaskan ketika nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul Allah pada tahun sekitar 600 masehi. Peradaban dan budaya yang ada di dunia saat ini sudah ada sejak ratusan atau ribuan tahun lalu.

Surah Al Baqarah ayat 170 :

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَاۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ

Arti nya :
Apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “Tidak. Kami tetap mengikuti kebiasaan yang kami dapati pada nenek moyang kami.” Apakah (mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka (itu) tidak mengerti apa pun dan tidak mendapat petunjuk?

Di dalam surah Al Baqarah ayat 170 , dikisahkan bahwa ada sekelompok masyarakat yang diberikan syariat dari Allah namun mereka menolak syariat tersebut. Kemudian kenapa mereka menolak syariat tersebut? . Dijawab dalam surah tersebut , “Karena mereka telah mengikuti tradisi yang telah dibuat oleh nenek moyang nya”.
Kemudian ditanya kenapa mereka mengikuti tradisi nenek moyang mereka, padahal belum tentu nenek moyang mereka itu mengetahui sesuatu apapun, dan belum tentu mereka mendapatkan petunjuk dari Allah.

Jika kita potretkan kepada kehidupan masyarakat umat Islam pada saat ini, maka ada beberapa kelompok masyarakat yang sulit untuk menerima ajaran syariat ataupun sunnah bagi seorang muslim, dan ada beberapa masyarakat yang masih mempertahankan dengan kuat budaya yang telah dibawa secara turun temurun dari leluhur nya.
Kisah dari Kiai Haji Hasyim Ashari dan Kiai Haji Ahmad Dahlan ketika beliau berdua belajar ke negeri arab, dan ketika beliau kembali pulang ke negeri kita, mereka berdua melihat bahwa banyak sekali tradisi di masyarakat bangsa ini yang bernilai tahayul. Hal ini mengacu pada ajaran Ulil Albab yang pertama bahwa manusia harus mampu berpikir dengan akal pikiran, atau sesuatu hal yang bisa ditelaah secara logika dan harus masuk akal.

Ada beberapa tradisi yang telah dilakukan secara turun temurun di masyarakat Indonesia yang menuai pertanyaan, apakah hal tersebut dapat di-ilmiahkan ? Apakah hal tersebut dapat dijelaskan dengan terang dari sumber ilmu pengetahuan?
Ada juga sebuah contoh dalam sebuah kegiatan tradisional tertentu, yang sifat nya wajib untuk dilakukan secara berkala dan telah dilakukan dari sejak jaman dahulu dengan sebuah pantangan jika hal tersebut tidak dilakukan maka suatu wilayah tersebut akan mendapatkan bala atau musibah bencana. Hal ini mengundang pertanyaan bagi kita, apakah hal tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah?

Kenapa sebuah kegiatan tradisi bisa berjalan selama bertahun-tahun di masyarakat kita?

Apabila kita telaah lebih lanjut , dalam contoh nya pada sejarah kejadian bencana alam atau sebuah kejadian alam besar yang terjadi pada masa leluhur kita tersebut, maka secara ilmu pengetahuan sangat mungkin bahwa saat jaman itu, tidak banyak orang yang paham dengan ilmu pengetahuan alam kebencanaan, ilmu pengetahuan yang ada pada saat itu masih jauh dibandingkan dengan ilmu yang bisa kita pelajari di sekolah dan perguruan tinggi pada saat ini. Masyarakat pada jaman itu tidak mendapatkan petunjuk yang jelas secara ilmu pengetahuan alam. Sehingga dengan pikiran mereka sendiri pada jaman itu , dan dengan ilmu pengetahuan yang terbatas maka mereka membuat kegiatan tradisi, yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah dan telah diwariskan secara turun temurun hingga seterus nya diwariskan kepada generasi selanjut nya. Pada jaman dahulu dengan sangat terbatas nya ilmu pengetahuan yang dimiliki, sehingga generasi anak cucu mereka hanya mengikuti saja dari arahan leluhur mereka untuk tetap melakukan tradisi itu.

Kita sebagai generasi muslim modern saat ini perlu melihat dan menelaah lebih dalam sesuai dengan prinsip Ulil Albab tersebut mengenai budaya tradisi yang dapat kita liat di sekitar kita pada saat ini, Apakah yang dilakukan tersebut adalah sebuah tradisi yang sifat nya baik atau justru tradisi yang dilakukan itu adalah yang bersifat menyekutukan Allah?.
Mensekutukan Allah ini berarti orang tersebut mempercayai bentuk hal-hal lain atau zat lain yang memiliki kekuatan lebih tinggi dari Allah. Dan Allah juga telah berfirman di dalam ajaran kitab Al-Quran bahwa jika seseorang meminta pertolongan kepada sebuah benda mati atau zat lain selain Allah maka hal tersebut itu merupakan sebuah kesyirikan yang telah jelas. Salah satu contoh yang terjadi di beberapa kelompok masyarakat adalah, mempercayai ada nya sebuah kekuatan gaib pada benda-benda mati. Benda mati tersebut tentu nya akan bertentangan dalam akal pikiran manusia.

Terdapat juga sebuah tradisi yang memiliki kegiatan yang bermanfaat positif untuk masyarakat, seperti contoh nya kegiatan tradisi untuk saling berbagi makanan, saling berjumpa dengan sanak saudara, saling memasak bersama, saling bergembira. Hal tersebut termasuk sebuah hal yang baik untuk dilakukan selama hal itu membawa manfaat yang positif bagi semua nya.

Bagaimana sebuah tradisi bisa menjadi sebuah tuntunan di masyarakat kita?

Yang terjadi bisa saja pada saat itu leluhur kita banyak yang tidak mengetahui sebuah ilmu pengetahuan secara ilmiah, dan memiliki pengetahuan yang terbatas pada jaman itu, atau bisa juga bahwa leluhur kita tersebut tidak mendapat petunjuk dari Allah.
Ada contoh sebuah cerita dari nenek moyang mengenai sebuah bencana alam yang kemudian leluhur kita memberikan tradisi tuntunan dengan mengamatkan dengan melakukan sebuah tradisi dengan memberikan sebuah persembahan secara rutin untuk menghormasi sebuah tempat yang dianggap sakral dan keramat misal nya, maka hal tersebut harus kita pikirkan dengan akal pikiran kita terlebih dahulu, apakah tradisi tuntunan tersebut memang berkaitan langsung dengan sebuah bencana atau hanyalah sebuah tuntunan tradisi yang berasal dari sebuah cerita mitos saja?
Di dalam beberapa cerita sejarah ada juga beberapa orang yang dikisahkan menggunakan ilmu pengetahuan yang dimiliki nya dengan tujuan untuk memperdaya sekelompok orang lain, maka hal ini juga harus kita yakini dahulu apakah hal tersebut bisa dijelaskan secara ilmiah atau tidak. Karena jika suatu hal dicerita tersebut tidak bisa dijelaskan secara ilmiah tentu kita tidak harus mengikuti nya.

Urgensi , kepentingan dan dampak nya dari melakukan kegiatan tradisi.

Misal dalam cerita dalam sebuah lokasi tertentu terdapat sebuah sosok pohon besar yang dipercaya oleh sebagian kalangan masyarakat bahwa di dalam nya itu terdapat sesosok penunggu makhluk halus, yang di dalam pengetahuan kita sosok tersebut adalah sebenarnya makhluk halus serupa dengan jin di dalam ajaran Islam, maka sesuai dengan pengetahuan yang kita miliki, kita harus paham bahwa semua mahkluk itu wajib harus tunduk kepada kekuasaan nya Allah, begitu juga dengan semua makhluk yang tidak kasat mata oleh manusia. Ini adalah ilmu pengetahuan yang dimiliki kita saat ini , dengan ilmu dan akal pikiran yang kita miliki maka kita bisa mengerti bahwa sebuah tradisi itu sebenar nya hanya dituntunkan secara temurun oleh leluhur kita walaupun tanpa pengetahuan yang jelas sebelumnya.
Dalam ilmu pengetahuan yang manusia miliki saat ini juga telah berkembang luas, saat ini kita juga telah mengerti tentang ilmu ekosistem alam, kita tidak boleh menebang pohon sembarangan terutama pohon-pohon yang berfungsi sebagai cagar alam, pohon yang berfungsi untuk mengatur air tanah agar tidak menimbulkan longsor, dapat menimbulkan bencana alam jika ditebang secara asal asalan.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, tradisi tidak serta-merta dilarang, namun ditekankan bahwa tradisi yang menyelisihi syariat, tidak berdasarkan ilmu, dan hanya mengikuti nenek moyang yang sesat (seperti menyembah berhala) adalah sesat dan wajib ditinggalkan, seperti yang dijelaskan dalam bantahan Allah kepada kaum Musyrik yang beralasan hanya mengikuti tradisi leluhur mereka. Ibnu Katsir menekankan pentingnya mengikuti wahyu Allah (Al-Qur’an dan Sunnah) dan meninggalkan kebodohan (jahiliyah), serta membedakan antara tradisi yang bermanfaat dan sesuai akal sehat dengan tradisi yang menyesatkan.
Intinya, Ibnu Katsir mengajarkan prinsip untuk mengutamakan wahyu di atas tradisi. Jika tradisi itu baik dan sejalan dengan syariat, maka itu bisa dipertahankan. Namun, jika tradisi itu bersumber dari kesesatan atau kebodohan, maka wajib ditinggalkan dan diganti dengan ajaran Islam yang benar.

Mempelajari tradisi, budaya dan Islam ini harus kita lakukan dengan kebesaran hati, dan juga dengan pikiran yang luas, karena ini merupakan sesuatu hal yang sangat sensitif untuk dibicarakan di dalam lingkup sosial masyarakat kita sendiri. Kita dapat saling menghargai tradisi yang telah dilakukan masyarakat kita, namun kita juga wajib untuk tetap berpegang pada ajaran Al-Quran dan Hadits dalam menjalani kegiatan kita sehari-hari.

sumber : Dr. Umar Haris Sanjaya, S.H., M.H. – Dosen Fakultas Hukum Unversitas Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *