Membawa harta ke akhirat

Marilah kita semua mensyukuri nikmat dari Allah yang sangat banyak dan tak terbilang. Jika kamu ingin menghitung-hitung nikmat Allah maka itu mustahil untuk bisa diketahui secara rinci keseluruhan nya.

Surah An-Nahl ayat 18 :

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Arti nya : “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ada salah satu nikmat dari Allah yang diberikan kepada manusia yang terkadang bagi sebagian orang bisa hanya disebut sebagai nikmat yang biasa saja, yaitu nikmat harta.
Ketika seseorang sedang tidak memiliki harta maka dia akan mengatakan kenapa hidup nya hanya begini saja, padahal sebenarnya kenikmatan hidup itu tidak hanya tentang harta saja, bahkan harta yang dimiliki seseorang bisa saja menjadi sebalik nya yang bisa menyulitkan orang tersebut.

Mari kita mensyukuri semua nikmat yang diberikan kepada kita terutama nikmat yang paling besar yaitu nikmat Iman dan nikmat Islam yang dimana nikmat ini tidak diberikan oleh Allah kepada siapapun meskipun meminta, kecuali Rasul Nya, dan kecuali Allah sendiri yang menghendaki nya. Marilah nikmat ini kita syukuri dan juga sebaiknya nikmat ini kita amalkan di dalam perbuatan kita.

Sebuah kisah di jaman Nabi mengenai seseorang yang sangat dermawan. Ada orang yang sangat dermawan untuk memberikan uang nya dalam kepentingan dakwah. Banyak orang-orang di sekitar lingungan nya saat itu yang kemudian mencibir nya dengan mengatakan, ” Bapak ini tidak sayang dengan uang nya ya?”, “Kenapa hanya diberikan dikasihkan kepada orang-orang lain?”. Kemudian orang tersebut menjawab dengan jawaban yang tidak terduga, ” Kalian salah, Justru aku sangat menyayangi harta-harta ku, dan aku sangat menyayangi diriku sendiri”. “Maka itulah sebab nya aku ingin harta ku ini terus mengikutiku kemana-mana bahkan hingga aku mati, maka karena itulah aku sedekahkan harta ku”.

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini adalah. Ketika kita banyak menggunakan harta kita dengan cara yang benar, seperti dengan sadaqah fisabilillah maka sebenarnya harta itu akan terus mengikuti kita dan akan menyelamatkan kita hingga akhirat. Maka sebenarnya justru kita tidak berpisah dengan harta kita.

Harta di dalam pandangan Islam memang seperti pisau bermata dua. Karena di satu sisi, harta ini bisa membawa kebaikan dan di sisi lain nya, harta ini adalah musibah. Harta itu adalah jebakan.

Surah At-Thagabun ayat 15 :

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

Artinya : “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allah lah (ada) pahala yang besar.”

Surah Al-Kahf ayat 46 :

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Harta disatu sisi akan membuat indah hidup kita, namun disisi lain nya hal itu adalah sebuah ujian. Maka kita harus menempatkan harta kita ini dengan sebaik baiknya.

 

Mengendalikan diri dalam mencari , mengelola dan membelanjakan harta kita sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Harta yang kita miliki jumlah nya terbatas atau harta kita bukan lah jumlah yang tidak terhingga, oleh sebab itu kita harus menggunakan nya dengan sangat bijak dan cerdas. Orang yang cerdas itu adalah seseorang yang bisa menggunakan harta nya tersebut yang jumlah nya terbatas kemudian dia mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu hal yang luar biasa tersebut di dalam ajaran agama Islam adalah dengan kita menghasilkan sebanyak mungkin dan setinggi mungkin kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat.

Surah Al-Baqarah ayat 261 :

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Arti nya :  “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”

Di dalam ayat tersebut, Allah memberikan kita semua sebuah rumus yang luar biasa tentang bagaimana cara mengelola harta dengan sangat ekonomis. Sebuah Harta akan mampu menghasilkan hasil kebaikan yang banyak sekali.
Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta nya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai yang di setiap tangkainya ada 100 biji. Allah akan melipat gandakan bagi siapapun yang dikehendaki oleh Nya. Allah maha luas lagi maha mengetahui. Harta yang dinafkahkan ke jalan Allah termasuk menafkahi diri sendiri, keluarga dan lain-lain termasuk juga membantu orang dalam bersedekah , bagaikan menebar satu butir yang akan menghasilkan satu tangkai dan setiap tangkai akan berbuah seratus. Kita akan mengeluarkan satu dan akan mendapatkan kembali sebanyak tujuh ratus.
Harta yang dinafkahkan ke jalan Allah akan berlipat ganda sebanyak tujuh ratus kali. Masyallah, inilah resep nya dari Allah.

sumber : Mohammad Bekti Hendrie Anto, S.E., M.Sc. – Dosen Ilmu Ekonomi , Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *