Jihad pada pandangan umum sering diasosiasikan sebagai sebuah perlawanan, peperangan, dan bahkan jihad juga sering dikatakan sebagai sebuah aksi radikal yang dilakukan untuk memberikan perlawanan. Jihad berasal dari kata jahada, yang memiliki arti : bersungguh-sungguh , berjuang dan berusaha maksimal.
Jika kita kembali melihat pada kisah sejarah pada jaman para Nabi dan Rasullullah yang pada saat itu sangat banyak terjadi kisah tentang perebutan kekuasaan, wilayah dan kesukuan , dan perjuangan melawan kekafiran , maka tidak heran jika pandangan umum dari masyarakat tentang jihad ini adalah tentang pertumpahan darah dan kemampuan fisik untuk turun di dalam medan perang.
Jihad di kehidupan kita sehari hari.
Dalam konteks keseharian kita , ada 2 istilah jihad yang bisa kita lakukan. Yang pertama adalah jihad an-nafs, yaitu bersungguh-sungguh atau bisa disebut dengan jihad melawan hawa nafsu kita sendiri, hal ini tentu merupakan sesuatu yang butuh kesabaran luar biasa karena manusia memang selalu penuh dengan perasaaan, ego dan akan selalu mencari kesenangan sendiri , maka jihad melawan hawa nafsu ini adalah merupakan salah satu hal yang sangat sulit untuk dilakukan oleh setiap manusia. Yang kedua adalah Jihad bil mal , yaitu berjihad dengan harta, atau bisa juga disebut dengan sebutan jihad dengan harta. Jika di dalam sejarah agama Islam dikisahkan pada ketika jaman Rasul terdapat beberapa sahabat nabi yang sangat kaya raya dan sangat dermawan, seperti Abdurrahman bin Auf yang beliau rela untuk menyedekahkan banyak sekali harta yang dimiliki nya untuk membantu tentara muslim di medan perang saat itu, maka yang bisa kita lakukan pada saat ini tidak harus seperti itu. Salah satu hal yang bisa kita lakukan saat ini seperti contoh nya adalah dengan merasionalisasi keputusan konsumsi yang kita lakukan setiap hari. Setiap hari nya kita hampir selalu mengeluarkan uang untuk membeli segala hal kebutuhan konsumsi, namun apakah kita sudah membuat keputusan untuk memberikan rasionalitas dengan berfikir kemanakah uang kita itu akan mengalir pada saat kita membeli kebutuhan konsumsi tersebut? Pada keadaan perang yang sedang berkecamuk di timur tengah pada saat ini terutama pada aksi kekerasan yang terjadi di tanah Palestina yang terjadi pada saat ini, kemudian timbul banyak aksi boikot yang terjadi pada sejumlah produk yang dilakukan oleh masyarakat luas karena pertimbangan sosial. Hal ini tentu juga merupakan sebuah aksi yang cukup bisa dimaknai sebagai aksi jihad. Walaupun dengan daya konsumsi kita yang hanya kecil setiap hari nya, tapi tentu hal yang kecil ini akan tetap memberikan rasionalitas bagi kita dalam memahami dan mengetahui apakah produk-produk yang saat ini berada di dapur kita dan kita gunakan untuk memasak dan menyantap makanan setiap hari nya itu , apakah produk nya terafiliasi dengan negara tertentu yang melakukan kekerasan atau tidak. Tidak hanya produk makanan minuman saja namun juga bisa dari produk fashion yang kita gunakan, apakah barang tersebut terafiliasi dengan produk Israel atau tidak. Ini merupakan sebuah jihad bill mall, karena konsekuensi yang kita hadapi adalah jika kita membelanjakan uang kita dengan membeli produk yang terafiliasi dengan negara itu maka secara tidak langsung kita ikut dalam membiayai aksi perang yang dilakukan oleh Israel untuk biaya mereka membuat senjata dalam menginvasi Palestina.
Jihad di media sosial.
Kehati-hatian jari kita di media sosial juga merupakan sebuah jihad yang bisa kita lakukan setiap hari nya. Ketika kita berselancar di media sosial, kita harus bisa untuk memvalidasi sebuah konten dan juga memvalidasi dahulu dari akun yang mengunggah atau menyebarkan konten tersebut, karena belum tentu hal-hal yang menjadi topik konten yang kita lihat lewat di beranda media sosial kita pada saat itu adalah merupakan sumber informasi yang valid. Kita harus bisa memverifikasi dari akun yang mengunggah nya. Selain itu kita sebagai pengguna teknologi juga harus paham dan menyadari bahwa membuat sebuah konten dalam bentuk video maupun tulisan yang sudah kita posting di media sosial, maka konten tersebut akan sepenuh nya berada di dunia digital. Oleh karena nya, hal ini juga menuntut kehati-hatian kita untuk tidak selalu mengunggah sesuatu yang terlalu sensitif untuk kita bagikan kepada orang lain. Kegiatan yang kita lakukan sehari-hari pun juga kadang sering luput untuk kita verifikasi dahulu sebelum menggunggah nya karena sering nya keinginan diri untuk flexing dan keinginan untuk selalu berbagi kepada orang lain. Segala konten yang mengandung informasi sensitif mengenai diri kita bisa menjadi celah untuk dimanfaatkan oleh orang lain dengan tujuan tertentu. Bahkan hal ini juga bisa digunakan untuk tujuan kriminal yang kemudian bisa merugikan kita sendiri.
Bagaimana memulai jihad di media sosial?
Harus dimulai dari diri kita sendiri jika mau berubah maka konsisten lah dalam memilih informasi dan kemudian mengkalibrasi konten di sosial media kita, maka kemudian segala konten yang muncul dalam beranda media sosial kita itu akan berangsur-angsur berubah dan seiring waktu akan membentuk jati diri kita.
Misal nya kita memiliki sosial media yang banyak mendapatkan saran fyp di halaman sosial media kita saat ini, hal ini sebenarnya adalah merupakan proses akumulasi dari konten apa saja yang pernah kita konsumsi sejak beberapa tahun sebelum nya. Misal di sebuah sosial media yang kita pernah menggunakan nya sejak 6 tahun lalu, maka itu akan butuh proses untuk terus berangsur merubah algoritma nya mengikuti keinginan yang kita butuhkan pada saat ini ketika kita memilih untuk berubah. Semua itu harus ada aksi konsisten dari diri kita sendiri untuk mengkalibrasi seluruh konten yang kita dapatkan di media sosial. Semua atas kemauan kita sendiri untuk berubah dari konten yang sifat nya hanya sebuah FOMO yang sangat mudah untuk berpindah trend nya, menjadi ke arah prinsip yang dipegang oleh kita selama hidup. Kita juga bisa turut andil dalam memerangi hoax informasi yang beredar di media sosial. Langkah pertama tentu dengan melihat apakah informasi yang kita terima tersebut sudah dibagikan berkali-kali dari siapa, dan langkah selanjut nya kita juga harus mencari tau dengan melakukan crosscheck ke sumber berita yang valid.
Kurangi kebiasaan over sharing.
Seperti yang telah kita tahu bahwa kebiasaan orang-orang di media sosial pada umum nya yang suka melakukan berbagi konten dengan tujuan flexing atau hanya sekedar menambahkan cerita di media sosial ternyata juga memiliki berbagai dampak. Tidak hanya berdampak dari keseharian kita yang bisa terekspose oleh berbagai orang namun juga bisa menjadi celah yang bisa dimanfaatkan oleh orang asing dalam mengetahui keadaan dan keberadaan kita saat itu maupun juga bisa menjadi celah yang bisa dimanfaatkan orang asing menjadi untuk melakukan aksi kriminal. Kita juga sebaiknya saling berbagi informasi ini kepada orang tua kita maupun kepada anggota keluarga kita yang masih awam mengenai sosial media ini tentang berbagai dampak yang bisa diakibatkan dari penggunaan sosial media ini , dan sekaligus dampak efek buruk yang bisa ditimbulkan jika digunakan dengan gegabah seperti pada kebiasaan over sharing ini. Jangan sampai informasi yang sensitif mengenai keluarga kita menjadi terkespose kepada orang asing dari berbagi konten sosial media.
Dengan mengetahui Jihad apa saja yang bisa kita lakukan pada saat ini maka hal ini akan membuat kita menjadi diri yang lebih berkarakter, tidak mudah goyang, dan konsisten dalam keseharian kita. Jihad pada saat ini bisa kita lakukan dengan berbagai cara seperti dengan memilih barang-barang konsumsi kita sehari-hari dengan rasionalitas mengetahui siapa pemilik produk nya dan juga dengan melakukan jihad di sosial media dengan bisa menentukan siapa karakter kita dan juga selalu melakukan validasi dari apa pun berita yang kita dapatkan setiap saat di media sosial kita, dan kita sebaiknya juga tidak oversharing dengan keseharian kita. Dengan melakukan semua hal ini maka kita sudah cukup andil dalam berjuang melakukan jihad untuk kebaikan kita bersama.
sumber : Desmalinda, S.Kom., M.A